Tampilkan postingan dengan label #FilmIndonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #FilmIndonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 April 2018

Review: Jelita Sejuba


Info:
Rumah Produksi: Drelin Amagra Pictures.
Produser: Krisnawati & Marlia Nurdiyani
Sutradara: Ray Nayoan
Penulis: Jujur Prananto & Ray Nayoan
Pemain: Putri Marino, Wafda Saifan Lubis, Aldy Maldini, Yayu Unru, dan Nena Rosier.

Sinopsis:
Kisah Cinta Sharifah dan Jaka memang tidak terlalu berliku, takdir seakan menpertemukan mereka dengan mudah. Tanpa pacaran bertele-tele, Jaka segera melamar Sharifah dan mereka pun menikah.
Namun, kisah cinta bukanlah melulu mengenai pertemuan. Menjalani kehidupan cinta dalam bentuk rumah tangga, apalagi rumah tangga keluarga tentara, mempunyai dinamika tersendiri.
Sharifah harus belajar menggenggam rindunya setiap kali Jaka ditugaskan. Bagaikan pesisir Sejuba yang dihiasi batu-batu cantik dan besar menantikan mentari esok, Sharifah akan terus menanti kepulangan belahan hatinya.


Review:
Tak banyak yang mengetahui film Jelita Sejuba ini, saya pun awalnya hanya sekedar tau dan abai. Namun setelah liat trailernya dan tau kalau sang pemenang Piala Citra 2017, Putri Marino ikut bermain, langsung saja tanpa pikir panjang saya memasukkan film ini ke list tontonan wajib bulan April.

Jelita Sejuba sudah asing di telinga, pas hari pertama hanya diberi jatah 2 bioskop di Jakarta pula, sedih sekali. Eh tapi alhamdulillah, dihari kedua tambah layar! Tambah sekitar 2-3 bioskop, lumayanla. Saya tonton dihari kedua di Cipinang (XXI ya bukan penjaranya), tak kira akan sepi gitu makanya beli tiket mepet bahkan telat karena antrian, ternyata penuh oey! Beruntungnya diriku nonton sendiri, ada satu tempat duduk yang kosong dan itu di A, langsung saya pilih. Masuk-masuk, penonton udah ketawa-ketawa. Ya telat beberapa menit, kumenyesal.

Film ini adalah jenis film nasional, ya tentara. Tapi agak berbeda ceritanya dengan film tentang TNI yang udah-udah, Jelita Sejuba ini menceritakan tentang kisah istri tentara. Diawali dengan keluguan 3 gadis Natuna yang jatuh cinta terhadap TNI yang bertugas di daerahnya, film ini sungguh menyenangkan. Jika ini film komedi, sungguh sukses sekali karena kita dibuat tertawa dan ngakak dengan tingkah laku dan ceplos-ceplosan para pemain baik 3 gadis Natuna maupun TNI-nya.

Setelah itu para TNI pamit meninggalkan Natuna, dipertengahan Sharifah mulai jatuh cinta dan berharap Jaka kembali. Ujug-ujug Jaka datang kembali dan langsung MELAMAR, lalu menikah. Iya tiba-tiba nikah aja gitu si Sharifah tanpa pacaran yang diumbar-umbar. Miriplah sama hidupnya Putri Marino yang tau-tau nikah. Sakit hatiku tuuu.

Kelar nikah, ntah ngapain aja (gak ditunjukkin soalnya) tiba-tiba Sharifah bilang hamil, disaat yang bersamaan Jaka juga bilang dia harus pergi bertugas ke Afrika. Gilee, baru kawin langsung ditinggal, 6 bulan pula lamanya. Nasib jadi istri tentara. Nah selama ditinggal itu Sharifah harus menjalani hidupnya sendiri pas lagi hamil. Eh sama emaknya deng. Gak tau dia kerja apa, kayanya sih jadi guru gitu di komplek TNI.

Berbulan-bulan telah dilalui, lalu telponan dan bikin harapan 2 bulan lagi bakal balik eh ternyata php, Jaka diperpanjang tugasnya. Alhasil tanpa suaminya lah itu Sharifah lahiran. Beberapa tahun kemudian, Jaka tiba-tiba balik nyamperin anaknya namanya Andika pas Sharifah lagi manggil-manggil Dika. Eh ketemu, langsung dah tuh kangen-kangenan. Oiya kasian deh, Bapaknya ga dikenalin sama anaknya sendiri:(

Singkat kata dan waktu, anaknya udah SD, Jaka bertugas lagi. Disini kurangnya, cukup banyak plothole yang jadinya dibuat bertanya-tanya. Tapi ya tetep ngalir gitu aja sih bisa dinikmatin. Dibagian ini campur aduk, anaknya si Andika bener-bener scene stealer cuy. Parah dah itu dia muncul lucu banget. Udah gitu dia bikin hiasan tulisan "Ayahku Pahlawanku" , terharu akutu. Sharifah dan Dika sabar menunggu Jaka pulang, mereka berdua beneran keliatan kaya anak dan ibu banget yang menantikan sang Ayah.

Saking seru dan lucunya film ini, sampe lupa kalau ternyata ini film tentang tentara. Sudah pasti ada plot twist yang gitu deh. Ga sanggup ceritainnya, tega ini pokonya. Dibuat ketawa-ketawa trus langsung dijatohin dibikin nangis sampe keluar studio.

Sebenernya masih banyak lagi, ada cerita tentang bapaknya, adiknya, sahabatnya, dan mantan gebetannya Sharifah. Tonton deh film ini seriusan, underrated banget. Selain itu kita juga dapet pemdangan yang indah, akting para pemainnya bagus khususnya Putri Marino. JUARA pokonya dia. Kita juga jadi tau gimana kisah tentang istri dari seorang tentara. Satu lagi, soundtracknya "Menunggu Kamu' dari Anji ini ngena banget.

Jumat, 30 Maret 2018

Review: Teman Tapi Menikah


Info:
Rumah Produksi: Falcon Pictures
Produser: HB Naveen & Frederica
Sutradara: Rako Prijanto
Penulis: Johanna Wattimena, Upi Avianto, Ayudia Bing Slamet, Ditto 'Percussion'
Pemain: Adipati Dolken, Vanesha Prescilla, Cut Beby Tsabina, Denira Wiraguna, Refal Hady, Diandra Agatha, Sari Nila.


Sinopsis:
Semenjak pertama kali bertemu, Ditto (Adipati Dolken) sudah suka setengah mati pada Ayu (Vanesha Prescilla). Bukan karena Ayu adalah seorang Artis, tapi karena Ayu suka bergaya gahar seperti Preman. Kocak! Sayangnya selama 11 tahun bersahabat, Ditto selalu gagal keluar dari friendzone.
Apapun usahanya, dari PDKT ke Ayu berkedok nge-band, sampai akhirnya menjadi musisi perkusi professional, di mata Ayu, Ditto adalah teman makan dan teman curhat semata. Untungnya, kehidupan cinta Ayu yang berliku-liku, sering diselingkuhi sana-sini, memastikan Ditto selalu di dekatnya sebagai tempat curhat langganan. Sampai suatu hari, Ayu bercerita bahwa ia akan menikah dengan pacarnya, seorang pria sempurna luar dan dalam.
Ditto harus memilih: menyatakan perasaan, atau merelakan cinta pertamanya jadi sahabat seumur hidup. Kalo saja Ayu tidak tahu kelemahan Ditto sebagai pacar: tidak setia.
Film ini terinsipirasi dari kisah persahabatan Ayudia Bing Slamet & Ditto Percussion yang tertulis di buku laris karya mereka: #TemanTapiMenikah.
Dengan gaya yang santai dan penuh canda, kedua entertainer asal Jakarta ini menceritakan hidup sebagai pasangan harusnya dimulai dari persahabatan, dan pada waktu yang tepat (baca: dengan kerja keras dan semangat pantang mundur ala Ditto) cinta itu akan muncul.



Review:
Awal tahun 2018 jadi tahun yang sibuk bagi Falcon. 3 Film mereka di tahun ini berhasil menarik perhatian masyarakat Indonesia, dari film Dilan yang mencapai lebih dari 6 juta penonton dan menuai protes banyak orang karena masa edar terlalu cepat, promo besar-besaran film Benyamin Biang Kerok yang berujung di ranah hukum, hingga film terbaru mereka Teman Tapi Menikah yang lagi dan lagi ramai karena promosi yang dilakukan dianggap hanyalah sebuah gimmick semata.

Meskipun sejak sebelum tayang film ini sudah banyak pro dan kontra serta memiliki banyak haters, namun tidak membuat saya mengurungkan niat untuk nonton ini. Hasilnya? Sangat puas. Sungguh menyenangkan sekali ketika menonton Teman Tapi Menikah ini.

Bukan Falcon namanya jika tidak membuat gebrakan-gebrakan baru, diawal sebelum mulai film, kita diperingatkan oleh Adipati Dolken & Vanesha Prescilla untuk tidak melakukan pembajakan film. Sederhana tapi keren, jadi ketauan kan kalau masih ada yang instastory di bioskop itu berarti dia gak punya mata, gak punya kuping, dan sudah pasti dia bodoh. Langkah yang brilian dari Falcon. Andai semua film menampilkan seperti itu mungkin gak akan lagi kita temui orang sibuk sosmed di bioskop.

Sudah, mari mulai masuk ke filmnya. Buat kalian yang menonton film Teman Tapi Menikah ini, jangan sampai datang terlambat! Bukan, bukan hanya mengganggu, tapi akan rugi juga. Kenapa? Karena ada alunan musik (apalah ini namanya) yang keren banget. Gokil sih dari pembukaannya udah bikin happy.

Bagusnya lagi, disini kita bakal dibuat terus-terusan seneng sepanjang film. Cerita film ini emang sederhana, mungkin banyak yang akan bilang ini ceritanya rasa ftv, bahkan dari judulnya aja juga udah ketebak endingnya bakalan gimana. Tapi ntah kenapa, film ini justru enak banget buat ditonton. Kita seakan dibawa ke dunianya Ditto dan Ucha dengan bumbu persahabatan mereka yang nyenengin. Dibuat ketawa dan senyum-senyum terus nontonnya liat tingkah konyol keduanya.

Adipati Dolken dan Vanesha Prescilla juga mainnya oke, Chemistry mereka bener-bener mantep, Dodot terlihat semakin mateng dan buat saya dia adalah orang yang akan meneruskan Reza Rahadian nantinya. Vanesha mulai sekarang jangan diragukan lagi. Setelah main bagus sebagai Milea yang kalem, kini dia lebih ekspresif dan gak kalah bagusnya sebagai Ucha (dan mungkin lebih bagus). Sungguh aset berharga bagi perfilman Indonesia itu dia, 2 film perdananya jadi pemeran utama dan gak mengecewakan. Jadi kedepannya siap-siap aja mereka bakal sering muncul di layar bioskop. Oiya lagu-lagunya yang ada di film ini juga pas banget dan mendukung keseruan filmnya. Apalagi soundtrack Hello You yang dibawain Iqbaal juga enak euy.

Kekurangan dari film ini apa ya? Mungkin masalah latar waktunya kali ya. Dari SMP sampe kuliah dan kerja nggak begitu jelas. Apalagi Vanesha sebagai Ayu dari ga ada perbedaan sama sekali dari penampilannya. Beda dengan Adipati sebagai Ditto yang pas SMP keliatan culun dan berubah pas dewasa.

Terakhir kayaknya bisa jadi pelajaran buat PH-nya nih, lebih sukses dan dapet banyak respon positif kan bikin film drama yang diangkat dari novel daripada bikin film remake/reborn/reboot atau apalah itu dan dapet banyak tanggapan negatif?


Trailer:
https://www.youtube.com/watch?v=Mr6bsJwYGp4

Rabu, 28 Maret 2018

Review: Danur 2: Maddah

Info:
Rumah Produksi: MD Pictures & Pichouse Films
Produser: Manoj Punjabi
Sutradara: Awi Suryadi
Penulis: Lele Laila
Pemain: Prilly Latuconsina, Bucek, Sophia Latjuba, Sandrinna Michelle Skornicki, Shawn Adrian Khulafa, Gamaharitz, Kevin Bzezovski, Alexander Brain, Matt White, Justin Rossi, Elena Victoria Holovcsak.


Sinopsis:
Risa (Prilly Latuconsina), remaja perempuan yang memiliki 3 sahabat hantu bernama Peter (Gamaharitz), William (Alexander Bain) dan Jhansen (Kevin Bzezovski). Risa kini tinggal bersama adiknya Riri (Sandrina Michelle), yang sudah mulai jengah dengan kemampuan Risa bisa melihat hantu. Apalagi mereka untuk sementara hanya tinggal berdua karena ibunya menemani bapaknya dinas diluar negeri. Keluarga pamannya, Om Ahmad (Bucek) baru pindah ke bandung bersama istrinya, Tente Tina (Sophia Latjuba) dan Angki (Shawn Adrian) anaknya. Risa dan Riri sering berkunjung bahkan menginap di rumah om Ahmad dan Tante Tina.
Risa awalnya tidak merasa ada yang aneh dengan rumah Om Ahmad, namun suatu hari Risa memergoki Om Ahmad pergi bersama seorang wanita, Risa hampir tidak percaya bahwa Om nya selingkuh, Risa tidak berani bilang ke tante Tina dan memilih menyelidiki sendiri. Namun setelah itu Angki bercerita beberapa hal janggal terjadi dan yang paling aneh adalah sikap Om Ahmad berubah. Suatu malam Risa diganggu oleh sosok hantu perempuan menyeramkan dirumah itu. Apakah benar Om Ahmad selingkuh? Apa hubungan nya dengan terror hantu wanita di rumah itu yang mengganggu keluarga Om Ahmad termasuk Risa?
Apakah Peter dan kawan kawan akan datang membantu Risa meskipun Peter memperingatkan risa sebelumnya tentang roh jahat berbahaya di rumah Om Ahmad itu?


Review:
Keberhasilan film 'Danur: I Can See Ghost' yang mampu meraih jumlah penonton sampai 2,7 juta membuat film Danur 2: Maddah ini sangat ditunggu-tunggu. Ditambah lagi Danur yang pertama menuai pro dan kontra, ada yang menganggap sebagai film horror terbaik, ada pula yang menilai film tersebut hanyalah ajang senam jantung tanpa memperdulikan alur cerita. Kedua hal tersebut menjadi tugas berat bagi semua yang terlibat untuk memproduksi sekuelnya agar bisa lebih baik dari yang pertama.

Benar saja, Danur 2: Maddah ini membuat peningkatan yang cukup signifikan. Jika di film pertama terlalu banyak jumpscared yang terkesan asal-asalan, di Maddah kali ini dibuat menjadi lebih sabar dan tidak terburu-buru sehingga jumpscared yang ditampilkan tepat dan cukup membuat saya menarik nafas panjang. Selain itu pengambilan gambar yang keren mampu menambah kengerian di setiap adegan horrornya. 

Oiya di film ini juga ada beberapa adegan yang bagi saya lumayan serem, sayangnya adegan yang paling menyeramkan justru sudah ditampilkan dalam trailernya yakni adegan waktu lagi dzikir. Sungguh sangat-sangat disayangkan, padahal andai gak ada di trailer pasti bisa lebih mengerikan.

Ide cerita yang dibuat pun sebenarnya termasuk masih segar di perfilman Indonesia sehingga cukup menarik, sayangnya tidak bisa berkembang dengan baik. Jika kita berharap bisa melihat bagaimana kisah persahabatan antara Risa dengan 'teman-temannya' maka di film ini harapan kita tak akan tercapai. Sedikit sekali Peter CS hadir di film ini, Risa lebih sibuk dengan urusan menolong masalah keluarga pamannya seorang diri.

Terakhir, film ini tidak meninggalkan kesan traumatis yang membekas setelah menontonnya. Tidak seperti Danur pertama dengan lagu Boneka Abdi-nya yang bikin terngiang-ngiang di kepala, Maddah tidak ada seperti itu. Ketika keluar bioskop ya sudah selesai begitu aja semuanya jadi biasa aja.


Trailer:

Pembuktian Fajar/Rian di Piala Thomas Perdana

Fajar/Rian menjadi penentu kemenangan Indonesia atas Malaysia di babak delapan besar Piala Thomas 2018 (dok. PBSI) Pasangan ganda putra ...