Piala Thomas dan Uber 2018 tinggal menghitung hari. Tiap edisinya, selalu saja banyak kejutan yang disajikan pada ajang turnamen beregu putra dan putri paling bergengsi di dunia ini. Pada tahun ini, meskipun Piala Thomas dan Uber belum dimulai, namun sudah sangat banyak kejutan yang diberikan. Dimulai dari kelolosan dan mundurnya negara peserta hingga absennya bintang dunia dan munculnya para debutan.
Masih segar dalam ingatan kita pada Februari lalu, di Badminton Asia Team Championship (BATC) yang sekaligus kualifikasi Piala Thomas dan Uber, ada pertandingan beregu putra yang sangat menentukan antara 2 negara kuat Asia yakni Malaysia melawan Hongkong di babak 8 besar. Dalam pertandingan tersebut Malaysia sukses mengalahkan Hongkong 3-0 dan membuat Ng Ka Long, dkk harus mengikhlaskan gagal lolos ke Thomas Cup. Namun sebulan berselang, keberuntungan berpihak kepada Hongkong. Tim beregu putra England yang berstatus sebagai runner-up European Men's Team Badminton Championship dan berhak lolos ke Thomas Cup, memilih mundur karena suatu hal dan posisinya digantikan oleh negara yang sebelumnya gagal lolos yakni Hongkong. Hongkong dipilih karena memiliki ranking tim terbaik. Sebuah kejutan yang luar biasa dimana kita tidak akan bisa melihat salah satu tunggal putra terbaik Eropa, Rajiv Ouseph dan pasangan ganda putra peraih medali perunggu Olimpiade 2016, Marcus Ellis/Chris Langridge.
Dari peserta Piala Uber, ada juga negara peserta yang mundur. Kali ini adalah Spanyol. Negara pemilik peraih medali emas Olimpiade 2016 sektor tunggal putri, Carolina Marin itu yang mendapatkan slot ke Piala Uber memilih mundur karena terkendala cedera yang menimpa para pemainnya. Posisi Spanyol tersebut akhirnya digantikan oleh tim ranking terbaik. Bulgaria dan Inggris adalah negara yang mendapatkan undangan itu, namun kedua negara menolak hingga akhirnya Prancis yang menerima undangan tersebut. Sungguh sangat disayangkan kita tidak bisa mendengar teriakan super dari Carolina Marin di Piala Uber tahun ini.
Seminggu berselang di benua yang berbeda, ada sebuah pencapaian yang sebenernya mengejutkan namun tidak banyak yang peduli. Algeria akhirnya untuk pertama kalinya bisa mewakili benua Afrika dalam Piala Thomas 2018 setelah menjadi juara All Africa Men's Team Badminton Championship 2018 dengan mengalahkan Nigeria. Sebelumnya wakil Afrika yang berlaga di Piala Thomas hanyalah Afrika Selatan dan Nigeria. Sementara di Piala Uber, setelah 2 tahun lalu menjadi penampilan perdananya, di tahun ini Mauritius kembali menjejakan dirinya sebagai wakil Afrika di Piala Uber. Sungguh pencapaian yang cukup luar biasa bagi Algeria dan Mauritius. Hal tersebut menandakan bahwa bulutangkis Afrika tidak hanya dikuasai Afrika Selatan dan Nigeria saja. Semoga suatu saat nanti wakil Afrika juga bisa berbicara banyak di pentas dunia.
Banyaknya kejutan ini membuat Piala Thomas dan Uber 2018 ini tentu akan semakin dinantikan oleh seluruh pecinta bulutangkis di dunia. Selain itu mari kita berharap TUC tahun ini bakal berjalan lebih sengit dan seru untuk ditonton serta tak lupa mendoakan tim Indonesia agar mendapatkan hasil yang terbaik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar