Kamis, 24 Mei 2018

Pembuktian Fajar/Rian di Piala Thomas Perdana

Fajar/Rian menjadi penentu kemenangan Indonesia atas Malaysia di babak delapan besar Piala Thomas 2018 (dok. PBSI)
Pasangan ganda putra Indonesia, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto berhasil membuktikan diri setelah menjadi penentu kemenangan tim Thomas Indonesia kedua kalinya. Padahal Piala Thomas tahun ini merupakan edisi perdana bagi mereka dapat tampil di ajang bergengsi ini.

Fajar/Rian merupakan pasangan dengan peringkat 12 dunia dan telah mengoleksi satu gelar turnamen BWF tahun ini yakni di ajang Malaysia Masters 2018 Januari lalu. Fajar/Rian yang awalnya sempat diragukan untuk masuk ke tim Thomas karena kurang konsisten, akhirnya mereka berhasil menyingkirkan kandidat lainnya seperti Rian Agung/Angga Pratama dan Berry Angriawan/Hardianto.

Saat tim Thomas Indonesia memulai petualangannya di babak penyisihan grup B Piala Thomas 2018 melawan Kanada, Fajar/Rian langsung diberikan kesempatan untuk melakoni debutnya di ajang bergengsi ini sebagai pasangan ganda putra pertama di partai keempat.

Fajar/Rian tidak menemui kesulitan berarti di pertandingan pertamanya setelah berhasil mengalahkan pasangan asal Kanada, Jason Anthony Ho-Hsue/Nyl Yakura dengan dua gim langsung 21-17 21-14.

Kemenangan di pertandingan perdana membuat pasangan Fajar/Rian kembali dipercaya untuk tampil di pertandingan kedua babak penyisihan grup B melawan tuan rumah Thailand. Saat itu mereka tampil di partai keempat sebagai ganda putra kedua.

Takluknya pasangan ganda putra nomor satu di dunia, Kevin/Gideon membuat Thailand berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1 setelah sebelumnya tertinggal 0-1 melalui poin yang dihasilkan oleh Anthony Sinisuka Ginting. Di partai ketiga, Ihsan Maulana Mustofa mampu kembali membawa tim Indonesia unggul 2-1 setelah mengalahkan Kantaphon Wangcharoen.

Pada partai keempat, banyak pecinta bulutangkis Indonesia yang ragu dengan Fajar/Rian akan meraih kemenangan karena merasa tertekan menjadi penentu pertandingan di Piala Thomas pertamanya. Namun ternyata mereka mampu menjawab keraguan semuanya setelah mengalahkan pasangan Tinn Isriyanet/Dechapol Puavaranukroh dalam 33 menit dengan angka 21-10 dan 21-18. Kemenangan tersebut akhirnya membuat Indonesia berhasil melaju ke babak delapan besar Piala Thomas 2018 dan Fajar/Rian langsung mendapatkan banyak pujian.

Pertandingan terakhir tim Indonesia di babak penyisihan grup B melawan Korea, sekaligus perebutan juara grup, Fajar/Rian diistirahatkan sejenak dan posisinya digantikan oleh pasangan juara dunia dua kali, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan.

Tim Indonesia akhirnya berhasil keluar sebagai juara grup setelah menaklukan Korea dengan skor 3-2. Pertandingan selanjutnya tim Indonesia ditantang oleh negara tetangga, Malaysia di babak delapan besar.

Pada pertandingan melawan Malaysia, Indonesia sempat tertinggal 1-0 setelah Anthony Ginting harus menyerah dari Lee Chong Wei. Namun Indonesia mampu membalikkan kedudukan menjadi 1-2 setelah Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon dan Jonatan Christie meraih kemenangan dan memberikan 2 poin penting bagi tim Indonesia.

Di partai keempat, pelatih ganda putra, Herry Iman Pierngadi menyerahkan kepada Fajar/Rian untuk bisa kembali menyumbang poin bagi tim Indonesia. Benar saja, Fajar/Rian akhirnya untuk kedua kalinya menjadi penentu kemenangan Indonesia dan meloloskan tim Indonesia melaju ke semifinal setelah mengalahkan pasangan Malaysia, Aaron Chia/Teo Ee Yi dalam pertarungan tiga gim dengan angka 21-18, 10-21, dan 21-9.

Keberhasilan Fajar/Rian menjadi penentu kemenangan di dua pertandingan tim Indonesia seakan menjawab keraguan yang ditujukan kepada mereka sekaligus membuktikan bahwa mereka dapat diandalkan tim Indonesia.

Sabtu, 12 Mei 2018

Kejutan Dini Piala Thomas dan Uber 2018 (Part 2)

(foto: BWF)
Piala Thomas dan Uber 2018 tinggal menghitung hari. Tiap edisinya, selalu saja banyak kejutan yang disajikan pada ajang turnamen beregu putra dan putri paling bergengsi di dunia ini. Pada tahun ini, meskipun Piala Thomas dan Uber belum dimulai, namun sudah sangat banyak kejutan yang diberikan. Dimulai dari kelolosan dan mundurnya negara peserta hingga absennya bintang dunia dan munculnya para debutan.

Jika di bagian pertama kita sudah membahas kejutan dari negara-negara peserta, kali ini dari pemain-pemain yang harus absen dan akan tampil di Piala Thomas dan Uber 2018 tidak kalah mengejutkan.

PIALA THOMAS
Dimulai dari skuat di Piala Thomas, tim Indonesia banyak dipertanyakan mengenai pemilihan Firman Abdul Kholik ke dalam tim dibandingkan pemain senior, Tommy Sugiarto. PBSI menilai performa Firman di BATC saat semifinal Indonesia melawan Korea, Firman menjadi penentu kemenangan bagi Indonesia setelah mengalahkan Lee Dong Keun. Padahal, performa Firman sebelum dan sesudah BATC tidak istimewa bahkan cenderung mengecewakan. Berbeda dengan Tommy Sugiarto yang secara ranking dunia lebih unggul dan pada tahun ini sudah meraih gelar yakni di Thailand Masters.

Selain perdebatan Firman dan Tommy, kejutan lain adalah tersingkirnya pasangan ganda putra senior, Angga Pratama/Rian Agung Saputro yang digantikan oleh Fajar Alfian/Rian Ardianto. Namun pemilihan pasangan ini bisa dibilang cukup masuk akal. Meskipun Fajar/Rian masih inkonsisten, namun dalam setahun belakangan pasangan ranking 12 ini cukup mengesankan. Fajar/Rian mampu menaiki podium sebanyak 3 kali, 1 diantaranya berhasil keluar sebagai juara pada turnamen Malaysia Masters Januari lalu. Sedangkan pasangan Angga/Rian, sejak kembali dipasangkan mereka belum menunjukkan penampilan terbaiknya. Terlebih di turnamen terakhirnya, Badminton Asia Championship, Angga Pratama mengalami cedera engkel dan terpaksa mundur di babak kedua.

Dari negara tetangga, Thailand dan Malaysia ternyata juga mengumumkan skuat yang cukup mengejutkan. Thailand tidak mendaftarkan salah satu tunggal putra andalannya, Tanongsak Saensombonsuk dan pemain paling senior, Bodin Issara. Kedua pemain tersebut digantikan oleh Pannawit Thongnuam dan Tanupat Viriyangkura. Baik Pannawit dan Tanupat tahun ini merupakan debutnya di Piala Thomas.

Sementara Malaysia membuat gebrakan dengan memasukan nama juara Asia dan runner-up Dunia junior tahun lalu, Leong Jun Hao. Selain Leong, ada juga nama Lee Zii Jia yang merupakan peraih medali perunggu kejuaraan Dunia junior 2016. Kedua pemain yang baru 'lulus' junior tersebut tak terduga, karena banyak pecinta bulutangkis mengira Daren Liew dan Chong Wei Feng yang terpilih. Tidak hanya sektor tunggal, ganda putra pun BAM memilih pemain debutan. Ong Yew Sin yang sebelumnya berpasangan dengan Teo Ee Yi, posisinya digantikan oleh pemain non-pelatnasnya Malaysia, M. Arif Abdul Latif. Nama Arif Abdul Latif mungkin tidak asing bagi pecinta bulutangkis Indonesia, karena ia sering berpasangan dengan pemain asal Indonesia, Rusyidina Antardayu Riodingin di ganda campuran. BAM juga memasukkan pasangan muda, Aaron Chia/Sooh Woi Yik.

Tidak hanya Malaysia & Thailand yang berani menurunkan pemain debutan, salah satu negara kuat Asia lainnya, India justru lebih nekat. PBSI-nya India lebih memilih pemain junior yakni Sen Lakshya dibandingkan tunggal putra utamanya, Srikanth Kidambi. Dari sektor ganda putra, India juga harus merelakan tanpa Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty yang harus absen karena ada ujian nasional. Sedangkan untuk menggantikan pasangan tersebut, India memasukan 2 ganda yang cukup asing di telinga yakni Arjun M.R/Ramchandran Shlok dan Arun George/Sanyam Shukla.

Rival Indonesia lainnya, Korea pun tidak tampil dengan kekuatan penuh. Secara mengejutkan, Lee Dong Keun yang sebelumnya didaftarkan kini namanya dicoret dan digantikan oleh Ha Young-woong. Selain itu ada pula nama pemain yang baru lulus junior yaitu Kwang Hee Heo di sektor tunggal putra dan Kang Min-Hyuk di sektor ganda putra.

Sang juara bertahan, Denmark tidak banyak mengalami perubahan. Carsten Mogensen kembali harus absen karena masih sibuk pemulihan cedera. Dari skuat edisi lalu, hanya pertukaran di sektor tunggal putra. Anders Antonsen akhirnya bisa merasakan Piala Thomas tahun ini setelah Emil Holst yang secara mengejutkan memilih pensiun dini karena sudah kehilangan motivasi dan semangatnya untuk bermain bulutangkis.

PIALA UBER
Tidak seperti Piala Thomas, di Piala Uber tahun ini sebenarnya tidak terlalu banyak negara yang nekat dan kehilangan pemainnya. Namun meski begitu nama-nama yang absen itu cukup membuat kita bertanya-tanya. Negara pertama adalah Korea. Ntah apa rencana dari negeri Ginseng ini. Dari tunggal putri saja, Kim Hyo Min disingkirkan oleh pemain yang belum mencapai usia 17 tahun, An Se-young. Selain itu ada nama Lee Se-Yeon yang bisa dibilang masih sangat asing di telinga kita. Padahal Korea masih memiliki salah satu tunggal putri muda yang cukup disegani, Kim Ga Eun

Tidak hanya tunggal putri, sektor ganda putri bahkan lebih mengejutkan. Dari daftar skuat yang ada, tidak ada nama pemain senior seperti Chang Ye Na, Lee So Hee, Jung Kyung Eun, dan Chae Yu Jung. Korea hanya menyisipkan satu nama senior yakni Shin Seung Chan. Sisanya adalah pemain muda yaitu Kong Hee Yong, Kim So-Yeong, Kim Hye Rin, dan pasangan baru lulus junior, Baek Ha Na/Lee Yu Rim. Dengan skuat yang mayoritas muda-muda, sungguh patut diapresiasi apa yang dilakukan tim Korea ini.

Piala Thomas dan Uber tahun ini sepertinya bukanlah menjadi target utama dari tim India. Sama seperti Thomas, tim Uber-nya pun kembali tanpa salah satu tunggal terbaiknya, Sindhu Pusarla. Absennya Sindhu menjadikan Saina sebagai andalan mereka. Bahkan di sektor tunggal putri, India memilih pemain muda semua yaitu Vaishnavi Reddy Jaka, Anura Prabhudesai, dan Sri Krishna Priya Kudaravalli. Ketiga pemain tersebut secara ranking diatas 60 dunia semua. Sedangkan sektor ganda putri, juga tidak ada pasangan Ashwini Ponnappa/Sikki Reddy. Ganda putri utama mereka adalah Sanyogita Ghorpade/Prajakta Sawant yang berada di peringkat 79 dunia. Satu ganda lainnya masih sangat asing di dengar yaitu Meghana Jakkampudi/Poorvisha S. Ram.

Jika Korea dan India lebih memilih pemain muda yang sebenarnya para pemain seniornya tidak bermasalah, beda cerita dengan Denmark. Bisa dibilang tim Uber Denmark tahun ini adalah yang tersial. Mereka harus kehilangan pasangan nomer 2 dunia, Christinna Pedersen/Kamilla Rytter Juhl karena bermasalah dengan kesehatan keluarga Pedersen. Absennya pasangan tersebut hanya digantikan oleh pemain muda potensial Alexandra Boje. Namun beberapa hari kemudian, Borje ternyata harus absen karena Apendisitis. Hingga akhirnya di Piala Uber nanti Denmark hanya akan diperkuat 9 pemain.

Dari negara peserta lain tidak terlalu mengejutkan, hanya tak ada nama Lee Chia Hsin dan Woon Khe Wei di skuat Taiwan dan Malaysia. Sisanya seperti China, Jepang, Indonesia, Thailand, dan negara lainnya tampil dengan kekuatan penuh.

Meskipun cukup banyak pemain bintang yang harus absen di Piala Thomas dan Uber, tentunya masih akan tetap dinantikan. Hal positif dari absennya para andalan adalah kita bisa melihat lebih cepat persaingan bulutangkis di masa yang akan datang. Selain itu jangan pernah melupakan negara peserta lain yang pastinya akan tampil dengan sebaik mungkin dan tidak ingin hanya menjadi tim pelengkap di turnamen sebesar Piala Thomas dan Uber tahun ini.

Kamis, 10 Mei 2018

Kejutan Dini Piala Thomas dan Uber 2018 (Part 1)


Piala Thomas dan Uber 2018 tinggal menghitung hari. Tiap edisinya, selalu saja banyak kejutan yang disajikan pada ajang turnamen beregu putra dan putri paling bergengsi di dunia ini. Pada tahun ini, meskipun Piala Thomas dan Uber belum dimulai, namun sudah sangat banyak kejutan yang diberikan. Dimulai dari kelolosan dan mundurnya negara peserta hingga absennya bintang dunia dan munculnya para debutan.

Masih segar dalam ingatan kita pada Februari lalu, di Badminton Asia Team Championship (BATC) yang sekaligus kualifikasi Piala Thomas dan Uber, ada pertandingan beregu putra yang sangat menentukan antara 2 negara kuat Asia yakni Malaysia melawan Hongkong di babak 8 besar. Dalam pertandingan tersebut Malaysia sukses mengalahkan Hongkong 3-0 dan membuat Ng Ka Long, dkk harus mengikhlaskan gagal lolos ke Thomas Cup. Namun sebulan berselang, keberuntungan berpihak kepada Hongkong. Tim beregu putra England yang berstatus sebagai runner-up European Men's Team Badminton Championship dan berhak lolos ke Thomas Cup, memilih mundur karena suatu hal dan posisinya digantikan oleh negara yang sebelumnya gagal lolos yakni Hongkong. Hongkong dipilih karena memiliki ranking tim terbaik. Sebuah kejutan yang luar biasa dimana kita tidak akan bisa melihat salah satu tunggal putra terbaik Eropa, Rajiv Ouseph dan pasangan ganda putra peraih medali perunggu Olimpiade 2016, Marcus Ellis/Chris Langridge.

Dari peserta Piala Uber, ada juga negara peserta yang mundur. Kali ini adalah Spanyol. Negara pemilik peraih medali emas Olimpiade 2016 sektor tunggal putri, Carolina Marin itu yang mendapatkan slot ke Piala Uber memilih mundur karena terkendala cedera yang menimpa para pemainnya. Posisi Spanyol tersebut akhirnya digantikan oleh tim ranking terbaik. Bulgaria dan Inggris adalah negara yang mendapatkan undangan itu, namun kedua negara menolak hingga akhirnya Prancis yang menerima undangan tersebut. Sungguh sangat disayangkan kita tidak bisa mendengar teriakan super dari Carolina Marin di Piala Uber tahun ini.

Seminggu berselang di benua yang berbeda, ada sebuah pencapaian yang sebenernya mengejutkan namun tidak banyak yang peduli. Algeria akhirnya untuk pertama kalinya bisa mewakili benua Afrika dalam Piala Thomas 2018 setelah menjadi juara All Africa Men's Team Badminton Championship 2018 dengan mengalahkan Nigeria. Sebelumnya wakil Afrika yang berlaga di Piala Thomas hanyalah Afrika Selatan dan Nigeria. Sementara di Piala Uber, setelah 2 tahun lalu menjadi penampilan perdananya, di tahun ini Mauritius kembali menjejakan dirinya sebagai wakil Afrika di Piala Uber. Sungguh pencapaian yang cukup luar biasa bagi Algeria dan Mauritius. Hal tersebut menandakan bahwa bulutangkis Afrika tidak hanya dikuasai Afrika Selatan dan Nigeria saja. Semoga suatu saat nanti wakil Afrika juga bisa berbicara banyak di pentas dunia.

Banyaknya kejutan ini membuat Piala Thomas dan Uber 2018 ini tentu akan semakin dinantikan oleh seluruh pecinta bulutangkis di dunia. Selain itu mari kita berharap TUC tahun ini bakal berjalan lebih sengit dan seru untuk ditonton serta tak lupa mendoakan tim Indonesia agar mendapatkan hasil yang terbaik.

Pembuktian Fajar/Rian di Piala Thomas Perdana

Fajar/Rian menjadi penentu kemenangan Indonesia atas Malaysia di babak delapan besar Piala Thomas 2018 (dok. PBSI) Pasangan ganda putra ...