Jumat, 20 April 2018

Mau Pilih yang Mana, Chico?

Chico Aura di podium WJC 2016. (foto: badmintonindonesia.org)
Sudah hampir 2 tahun kita mendapatkan sebuah kabar bahagia sekaligus secercah harapan pada olahraga bulutangkis di sektor tunggal putra. Ada seorang pemuda kelahiran 15 November 1998 asal Jayapura, tanpa diduga-duga mampu tampil luar biasa di Kejuaraan Dunia junior 2016 yang berlangsung di Bilbao, Spanyol. Ya, pemuda tersebut bernama Chico Aura Dwi Wardoyo.

Chico yang sejak awal sama sekali tidak diunggulkan, ternyata sukses melaju ke final. Bukan tanpa alasan memang, saat itu beban medali di ajang World Junior Championship (WJC) 2016 sektor tunggal putra memang bukan untuknya, melainkan untuk Gatjra Piliang, ia hanya diberikan target melaju hingga babak perempat final. Apalagi pada saat Asia Junior Championship (AJC)
beberapa bulan sebelumnya, Chico hanya bisa melaju hingga babak 32 besar. Tanpa adanya target tinggi dari tim pelatih dan kesempatan terakhirnya bagi dia mengikuti kejuaraan elit junior, mungkin hal tersebut yang membuat Chico tampil habis-habisan tanpa beban di WJC 2016.

Chico baru memulai petualangannya di WJC 2016 pada babak kedua, saat itu ia menang dua game langsung dengan skor yang sangat telak atas wakil Turki, Kubilay Sadi. Selanjutnya di babak ketiga, giliran Egor Kurdyukov asal Rusia yang menjadi korban keganasannya. Pada babak keempat, Chico mulai membuat kejutan setelah berhasil mengalahkan semifinalis AJC 2016, Liu Haichao dari China. Tak sampai disitu, di babak 16 besar ia mengalahkan unggulan ketiga asal Thailand, Pachaarapol Nipornram. Ng Zin Rei Ryan, asal Singapura menjadi korban kedua unggulan yang dikalahkan oleh Chico. Puncaknya adalah ketika ia berhasil menaklukkan sang unggulan kedua turnamen sekaligus andalan negara tetangga, Malaysia, yakni Lee Zii Jia dengan skor ketat dua dan game langsung.

Selebrasi Chico setelah menang atas Lee Zii Jia. (foto: badmintonindonesia)
Pertandingan tersebut menjadi pertandingan yang tak bisa dan tak mungkin bisa dilupakan oleh Chico. Apalagi setelah memenangkan pertandingan lawan Lee, ia 'mencuri' selebrasi andalan milik sang lawan yakni dab style. Sebenarnya tidak hanya bagi Chico, bagi pecinta bulutangkis Indonesia yang menyaksikannya mungkin tak akan mudah lupa dengan semifinal tersebut, karena di pertandingan itu perjuangan dan penampilan apik dari Chico sangat terlihat.

Keesokan harinya di partai final, Chico dibuat tidak berdaya oleh sang juara Asia junior asal China, Sun Feixiang dengan dua game langsung. Meskipun Chico harus puas dengan medali perak, hal tersebut tidaklah mengecewakan. Apa yang telah dicapai Chico saat itu tetaplah bagus, karena ia menjadi tunggal putra Indonesia kedua yang mampu melaju ke final Kejuaraan Dunia junior setelah Tommy Sugiarto pada tahun 2006.

Keberhasilan Chico meraih perak di WJC 2016 membuat masyarakat Indonesia sangat berharap dengan kemampuannya di masa depan. Bahkan tak sedikit dari mereka yang memimpikan Chico bersama seniornya yang masih muda pula, yakni Anthony Ginting, Jonatan Christie, dan Ihsan Maulana Mustofa untuk bisa bersaing dengan tunggal putra dunia seperti Lee Chong Wei, Lin Dan, Viktor Axelsen, Chen Long, dan yang lainnya.

Namun sayang beribu sayang, harapan kita semua yang dibebankan kepadanya, sepertinya terlalu berat. Sejak meraih medali perak tersebut hingga saat ini, masih belum ada gelar yang bisa dipersembahkan oleh Chico. Di tahun 2017, Chico diberi kesempatan 8 turnamen internasional, dimana semua turnamen tersebut berlevel International Series (IS) dan International Challenge (IC), yang bisa dibilang merupakan turnamen BWF level bawah. Pencapaian terbaiknya hanyalah mencapai semi final Iran International Challenge. Kala itu ia takluk dari seniornya, Panji Ahmad Maulana. Setelah itu ia pencapaiannya berlangganan di babak R1 hingga babak R3 dan sekali melaju ke babak delapan besar.

Pada tahun ini, Chico mendapatkan status SK Tetap di Pelatnas Pratama. Sebuah kesempatan yang seharusnya tidak disia-siakan olehnya, karena di sektor tunggal putra hanya ada 6 atlet yang mendapatkan SK tersebut. 4 di Pelatnas utama (Jonatan Christie, Firman Abdul Kholik, Anthony Sinisuka Ginting, dan Ihsan Maulana Mustofa) dan 2 di Pelatnas Pratama, salah satunya adalah dirinya dan pemain junior Ikhsan Leonardo Rumbay.

Berharap tahun ini bisa lebih baik dari tahun sebelumnya, Chico memulai turnamen pertamanya tahun ini di Thailand Masters Super 300 (setara Grand Prix Gold), ia kalah di kualifikasi pertama dari Soo Teck Zhi. Selanjutnya di Indonesia Masters Super 500, Chico kembali takluk di kualifikasi pertama, kali ini menyerah atas sang senior, Sony Dwi Kuncoro. 2 kekalahan di babak kualifikasi pertama di turnamen elit membuat Chico akhirnya diberikan turnamen yang levelnya lebih rendah. Maret lalu ia mengikuti Vietam International Challenge, Chico akhirnya bisa meraih kemenangan perdana di tahun 2018 di babak pertama. Namun keesokan harinya, ia kalah dari Goh Chiap Chin asal Malaysia.

Dua minggu kemudian, Chico diikutkan dalam tur ke China Masters Super 100 (setara Grand Prix) bersama beberapa lainnya. Di turnamen tersebut Chico cukup apes. Meskipun babak pertama mendapat bye, namun di babak kedua ia sudah harus bertemu unggulan pertama, Hsu Jen Hao dan berakhir kekalahan rubber game dari wakil Taiwan itu. Terbaru, minggu ini ia turut tampil di Malaysia International Challenge, sayangnya ia kembali takluk di babak kedua dan dari wakil Taiwan lainnya yakni Hsueh Hsuan Yi.

Hingga pertengahan bulan April tahun ini, Chico sudah diberikan 5 turnamen dengan berbagai level. Mulai dari International Challenge hingga Super 500 atau setara dengan Super Series, namun hasil yang diraih olehnya masih minor. Sungguh pencapaian yang sangat mengecewakan bagi peraih medali perak Kejuaraan Dunia Junior. Padahal saat ini rival seangkatannya sudah bisa meraih gelar seperti Lee Zii Jia dengan PolishIS 2017, Sun Feixiang dengan ChinaIC 2017, dan Kantaphon Wangcharoen yang pernah menjadi finalis ThailandGPG 2017.

Sekarang mari kita menanti apa turnamen selanjutnya yang akan dijalani oleh Chico dan sebuah keharusan bagi dirinya untuk bisa memberikan hasil yang lebih baik. Namun semua itu kembali lagi kepada Chico, apakah ia ingin menyusul rival dan senior-seniornya di papan atas atau ingin disebut sebagai 'The Next Ocoy' . Ayo buktikan, Chico!!

Minggu, 08 April 2018

Review: Jelita Sejuba


Info:
Rumah Produksi: Drelin Amagra Pictures.
Produser: Krisnawati & Marlia Nurdiyani
Sutradara: Ray Nayoan
Penulis: Jujur Prananto & Ray Nayoan
Pemain: Putri Marino, Wafda Saifan Lubis, Aldy Maldini, Yayu Unru, dan Nena Rosier.

Sinopsis:
Kisah Cinta Sharifah dan Jaka memang tidak terlalu berliku, takdir seakan menpertemukan mereka dengan mudah. Tanpa pacaran bertele-tele, Jaka segera melamar Sharifah dan mereka pun menikah.
Namun, kisah cinta bukanlah melulu mengenai pertemuan. Menjalani kehidupan cinta dalam bentuk rumah tangga, apalagi rumah tangga keluarga tentara, mempunyai dinamika tersendiri.
Sharifah harus belajar menggenggam rindunya setiap kali Jaka ditugaskan. Bagaikan pesisir Sejuba yang dihiasi batu-batu cantik dan besar menantikan mentari esok, Sharifah akan terus menanti kepulangan belahan hatinya.


Review:
Tak banyak yang mengetahui film Jelita Sejuba ini, saya pun awalnya hanya sekedar tau dan abai. Namun setelah liat trailernya dan tau kalau sang pemenang Piala Citra 2017, Putri Marino ikut bermain, langsung saja tanpa pikir panjang saya memasukkan film ini ke list tontonan wajib bulan April.

Jelita Sejuba sudah asing di telinga, pas hari pertama hanya diberi jatah 2 bioskop di Jakarta pula, sedih sekali. Eh tapi alhamdulillah, dihari kedua tambah layar! Tambah sekitar 2-3 bioskop, lumayanla. Saya tonton dihari kedua di Cipinang (XXI ya bukan penjaranya), tak kira akan sepi gitu makanya beli tiket mepet bahkan telat karena antrian, ternyata penuh oey! Beruntungnya diriku nonton sendiri, ada satu tempat duduk yang kosong dan itu di A, langsung saya pilih. Masuk-masuk, penonton udah ketawa-ketawa. Ya telat beberapa menit, kumenyesal.

Film ini adalah jenis film nasional, ya tentara. Tapi agak berbeda ceritanya dengan film tentang TNI yang udah-udah, Jelita Sejuba ini menceritakan tentang kisah istri tentara. Diawali dengan keluguan 3 gadis Natuna yang jatuh cinta terhadap TNI yang bertugas di daerahnya, film ini sungguh menyenangkan. Jika ini film komedi, sungguh sukses sekali karena kita dibuat tertawa dan ngakak dengan tingkah laku dan ceplos-ceplosan para pemain baik 3 gadis Natuna maupun TNI-nya.

Setelah itu para TNI pamit meninggalkan Natuna, dipertengahan Sharifah mulai jatuh cinta dan berharap Jaka kembali. Ujug-ujug Jaka datang kembali dan langsung MELAMAR, lalu menikah. Iya tiba-tiba nikah aja gitu si Sharifah tanpa pacaran yang diumbar-umbar. Miriplah sama hidupnya Putri Marino yang tau-tau nikah. Sakit hatiku tuuu.

Kelar nikah, ntah ngapain aja (gak ditunjukkin soalnya) tiba-tiba Sharifah bilang hamil, disaat yang bersamaan Jaka juga bilang dia harus pergi bertugas ke Afrika. Gilee, baru kawin langsung ditinggal, 6 bulan pula lamanya. Nasib jadi istri tentara. Nah selama ditinggal itu Sharifah harus menjalani hidupnya sendiri pas lagi hamil. Eh sama emaknya deng. Gak tau dia kerja apa, kayanya sih jadi guru gitu di komplek TNI.

Berbulan-bulan telah dilalui, lalu telponan dan bikin harapan 2 bulan lagi bakal balik eh ternyata php, Jaka diperpanjang tugasnya. Alhasil tanpa suaminya lah itu Sharifah lahiran. Beberapa tahun kemudian, Jaka tiba-tiba balik nyamperin anaknya namanya Andika pas Sharifah lagi manggil-manggil Dika. Eh ketemu, langsung dah tuh kangen-kangenan. Oiya kasian deh, Bapaknya ga dikenalin sama anaknya sendiri:(

Singkat kata dan waktu, anaknya udah SD, Jaka bertugas lagi. Disini kurangnya, cukup banyak plothole yang jadinya dibuat bertanya-tanya. Tapi ya tetep ngalir gitu aja sih bisa dinikmatin. Dibagian ini campur aduk, anaknya si Andika bener-bener scene stealer cuy. Parah dah itu dia muncul lucu banget. Udah gitu dia bikin hiasan tulisan "Ayahku Pahlawanku" , terharu akutu. Sharifah dan Dika sabar menunggu Jaka pulang, mereka berdua beneran keliatan kaya anak dan ibu banget yang menantikan sang Ayah.

Saking seru dan lucunya film ini, sampe lupa kalau ternyata ini film tentang tentara. Sudah pasti ada plot twist yang gitu deh. Ga sanggup ceritainnya, tega ini pokonya. Dibuat ketawa-ketawa trus langsung dijatohin dibikin nangis sampe keluar studio.

Sebenernya masih banyak lagi, ada cerita tentang bapaknya, adiknya, sahabatnya, dan mantan gebetannya Sharifah. Tonton deh film ini seriusan, underrated banget. Selain itu kita juga dapet pemdangan yang indah, akting para pemainnya bagus khususnya Putri Marino. JUARA pokonya dia. Kita juga jadi tau gimana kisah tentang istri dari seorang tentara. Satu lagi, soundtracknya "Menunggu Kamu' dari Anji ini ngena banget.

Pembuktian Fajar/Rian di Piala Thomas Perdana

Fajar/Rian menjadi penentu kemenangan Indonesia atas Malaysia di babak delapan besar Piala Thomas 2018 (dok. PBSI) Pasangan ganda putra ...